TANJUNGPINANG, Batamist.id – Pulau Penyengat kini semakin mempertegas posisinya sebagai destinasi wisata strategis di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri). Sebagai miniatur peradaban Melayu-Islam dan tempat lahirnya tata bahasa Melayu oleh Raja Ali Haji, pulau ini terus bertransformasi menjadi pusat edukasi budaya dan sejarah yang berdampak langsung pada perekonomian masyarakat.
Sejalan dengan Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2025 tentang RPJMN 2024–2029, pengembangan pariwisata di sini diarahkan pada konsep pariwisata berkualitas, berkelanjutan, dan regeneratif. Pendekatan ini tidak hanya mengutamakan keuntungan ekonomi, tetapi juga menjaga kelestarian lingkungan dan budaya.
Infrastruktur dan Komitmen Pemerintah
Di bawah kepemimpinan Gubernur Kepri, H. Ansar Ahmad, Pemerintah Provinsi Kepri melakukan revitalisasi masif. Langkah ini sejalan dengan instruksi Presiden RI Prabowo Subianto melalui Gerakan Indonesia ASRI dan Gerakan Wisata Bersih.
Berbagai aspek telah dibenahi, mulai dari penataan jalan kawasan, sistem drainase, instalasi penerangan, hingga penyediaan fasilitas umum seperti toilet dan pengelolaan sampah. Fokus utamanya adalah memastikan kenyamanan wisatawan sekaligus menciptakan lingkungan yang bersih dan tertata.
Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kepri, Hasan, menekankan pentingnya sinergi antara nilai sejarah dan kesejahteraan masyarakat.
“Pulau Penyengat bukan hanya memiliki nilai sejarah yang tinggi, tetapi juga menjadi kekuatan ekonomi daerah melalui pengembangan pariwisata berbasis budaya dan religi,” ujarnya.
Hasan menjelaskan bahwa penerapan konsep pariwisata regeneratif menjadi inti dari strategi pengembangan ke depan.
“Konsep pariwisata regeneratif ini menekankan bahwa pariwisata tidak hanya memberikan manfaat ekonomi, tetapi juga mampu memperbaiki lingkungan, sosial, dan budaya dengan melibatkan masyarakat secara aktif,” jelasnya.
Lonjakan Kunjungan dan Peluang Ekonomi
Upaya revitalisasi ini membuahkan hasil. Pulau Penyengat mencatat kunjungan sekitar 6.200 wisatawan pada periode Januari hingga Maret 2026. Jumlah tersebut mencakup kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara, termasuk dari Malaysia dan Singapura.
Tingginya minat kunjungan ini menjadi peluang emas bagi warga lokal untuk terlibat aktif dalam ekosistem pariwisata. Keterlibatan tersebut dapat dilakukan melalui pengelolaan homestay maupun pengembangan unit UMKM.
“Dengan meningkatnya kunjungan wisatawan, ini menjadi peluang besar bagi masyarakat untuk mengembangkan UMKM, homestay, serta berbagai layanan wisata lainnya,” ungkap Hasan.
Selain itu, Hasan mengingatkan bahwa keberhasilan destinasi wisata sangat bergantung pada keramahan dan kebersihan lingkungan. Warga setempat memikul tanggung jawab penting untuk menjaga faktor-faktor tersebut.
“Wisatawan akan tertarik dan kembali berkunjung apabila destinasi wisata tersebut bersih, nyaman, dan ramah. Karena itu, peran masyarakat sangat penting dalam menjaga Pulau Penyengat,” tambahnya.
Proyek Masa Depan: Monumen Bahasa
Ke depan, Gubernur Ansar Ahmad berkomitmen melanjutkan pembangunan strategis, termasuk revitalisasi Balai Adat dan rencana pembangunan monumen bahasa. Pemerintah memproyeksikan langkah ini menjadi daya tarik baru sekaligus memicu efek ekonomi ganda (multiplier effect).
“Pembangunan monumen bahasa ini akan menjadi ikon baru yang tidak hanya memperkuat identitas sejarah, tetapi juga memberikan multiplier effect terhadap sektor pariwisata dan ekonomi kreatif,” tutup Hasan.
Pulau Penyengat memadukan warisan sejarah dan pembangunan infrastruktur modern untuk menjadi jembatan lintas generasi dalam melestarikan peradaban Melayu. Upaya ini sekaligus menjadikannya sebagai ikon pariwisata yang membanggakan di Kepulauan Riau.
(RAY)


