BerandaKepulauan RiauSekda Kepri: Tekan Inflasi Lewat Sinergi TPID-TP2DD

Sekda Kepri: Tekan Inflasi Lewat Sinergi TPID-TP2DD

BATAM, Batamist.id – Sekretaris Daerah Provinsi Kepulauan Riau, Misni, menegaskan bahwa karakteristik geografis maritim menjadi tantangan utama dalam menjaga stabilitas harga di Kepri. Hal tersebut ia sampaikan dalam High Level Meeting TPID dan TP2DD di Aula Bank Indonesia, Batam Center, Kamis (7/5/2026).

Misni menjelaskan bahwa kondisi Kepri yang 98 persen wilayahnya adalah lautan sangat memengaruhi efisiensi logistik. Rantai pasok antar-pulau sering kali rentan terhadap anomali cuaca yang memicu disparitas harga.

“Karakteristik geografis maritim ini menghadirkan tantangan besar, khususnya terkait efisiensi logistik, rantai pasok antar pulau yang rentan terhadap anomali cuaca, disparitas harga, hingga keterbatasan produk pertanian lokal,” ujar Misni.

Kondisi Inflasi dan Penyumbang Utama

Berdasarkan data April 2026, inflasi tahunan Kepri berada di angka 3,06 persen, sedikit di atas rata-rata nasional. Tingginya mobilitas masyarakat kepulauan memicu sektor transportasi dan penyediaan makanan menjadi motor utama kenaikan harga.

Pemerintah mencatat tarif angkutan udara dan laut, bensin, serta ikan layang sebagai komoditas utama penyebab inflasi. Namun, harga cabai dan emas perhiasan yang mengalami deflasi berhasil menjadi penyeimbang tekanan pasar.

“Komoditas utama penyebab inflasi bulan ini di antaranya tarif angkutan udara dan laut, nasi dengan lauk pauk, telepon seluler, bensin, serta ikan layang atau benggol,” jelasnya.

Ekonomi Kepri Tertinggi di Sumatera

Meski dibayangi tantangan inflasi, performa ekonomi Kepulauan Riau justru menunjukkan hasil luar biasa. Pada Triwulan I-2026, ekonomi Kepri melesat hingga 7,04 persen secara year-on-year. Capaian ini menempatkan Kepri sebagai provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di Pulau Sumatera.

Selain itu, sektor pariwisata menunjukkan gairah besar dengan jumlah wisatawan nusantara mencapai lebih dari 1,1 juta perjalanan di awal tahun 2026. Angka ini merupakan rekor tertinggi sejak tahun 2019.

“Walaupun kontribusi Kepri terhadap PDRB Sumatera hanya sekitar 7,30 persen, namun akselerasi pertumbuhan ekonomi kita merupakan yang tercepat. Ini patut kita syukuri,” kata Misni.

Langkah Strategis ke Depan

Menutup rapat tersebut, Misni mendorong penguatan Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) dan percepatan digitalisasi daerah melalui TP2DD. Pemerintah berharap sinergi ini mampu menciptakan efisiensi ekonomi yang lebih baik di seluruh pulau.

“Ke depan, TPID Provinsi Kepulauan Riau akan terus memperkuat stabilisasi pasokan, kelancaran distribusi, dan koordinasi antar-instansi melalui implementasi GNPIP. Begitu pula dengan TP2DD, percepatan digitalisasi daerah harus terus digesa,” tutupnya.

Pimpinan Bank Indonesia Perwakilan Kepri, BPS, Perum Bulog, serta jajaran kepala OPD di lingkungan Pemprov Kepri turut menghadiri pertemuan strategis tersebut.

(RED)

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Most Popular

Recent Comments