BATAM, Batamist.id – Kota Batam kembali mengukuhkan posisinya sebagai kiblat pengembangan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas (KPBPB) di Indonesia. Kali ini, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) melakukan kunjungan kerja untuk mempelajari langsung implementasi Free Trade Zone (FTZ) yang telah sukses dijalankan Batam.
Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, bersama jajarannya disambut langsung oleh Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, dan Wakil Wali Kota Batam, Li Claudia Chandra. Pertemuan ini menjadi ajang dialog strategis mengenai investasi, regulasi, hingga konektivitas maritim.
Belajar dari Pengalaman Batam
Emanuel mengungkapkan bahwa pemerintah pusat saat ini sedang merancang NTT sebagai kawasan FTZ. Letak NTT yang berbatasan dengan Timor Leste serta dekat dengan Australia menunjukkan kemiripan strategis dengan posisi geografis Batam.
“Kami ingin belajar dari Batam yang sudah lama menjadi kawasan FTZ dan terbukti memberikan kontribusi penting bagi pertumbuhan ekonomi nasional. Karena itu kami datang untuk mendengar langsung pengalaman Batam,” ujar Emanuel.
Menanggapi hal tersebut, Amsakar Achmad menekankan bahwa kunci keberhasilan FTZ terletak pada kecepatan pelayanan dan kepastian hukum bagi para pengusaha.
“Investor melihat kepastian dan kemudahan. Karena itu pelayanan perizinan harus dipermudah, termasuk melalui digitalisasi agar proses lebih cepat dan akses investasi semakin terbuka,” jelas Amsakar.
Solusi Logistik dan Sektor Maritim
Tingginya biaya distribusi barang menjadi salah satu kendala utama yang menghambat NTT. Menyikapi tantangan tersebut, Amsakar menawarkan solusi konkret melalui penguatan industri maritim. Batam sendiri saat ini memiliki sekitar 135 perusahaan galangan kapal yang siap mendukung kebutuhan transportasi laut nasional.
“Jika ada peluang pengoperasian kapal di NTT, tentu ini bisa menjadi ruang kerja sama yang baik. Industri galangan kapal di Batam cukup besar dan dapat mendukung kebutuhan daerah kepulauan,” tambah Amsakar.
Jembatan Budaya dan Ekonomi
Selain sektor industri berat, pertemuan ini juga membuka peluang promosi produk lokal. Tercatat ada sekitar 40 ribu warga NTT yang kini menetap di Batam. Keberadaan warga NTT ini dipandang sebagai jembatan penting untuk mempererat hubungan kedua daerah.
Emanuel dan Amsakar sepakat untuk menjajaki kolaborasi di bidang promosi kuliner, seperti kopi khas NTT, serta akulturasi budaya antara Melayu Batam dan budaya NTT.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan NTT, Zet Sony Libing, berharap kerja sama ini dapat memangkas jalur distribusi produk lokal NTT yang selama ini harus memutar melalui Surabaya dan Makassar. Harapannya, sinergi ini mampu menekan biaya logistik dan mendorong pertumbuhan industri kecil menengah (IKM) di NTT.
(RAY)



