BATAM, Batamist.id – Banyak pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sering kali terjebak dalam bisnis skala dapur dengan kemasan seadanya. Keterbatasan akses pasar, kurangnya pemahaman mengenai standar produk, hingga kendala teknis dalam desain kemasan menjadi penghalang utama bagi mereka untuk tumbuh lebih besar. Kondisi inilah yang coba diubah secara radikal oleh Koperasi Rumah Bungkus Radja Isha.
Solusi Komprehensif bagi Pelaku Usaha
Sejak berdiri pada tahun 2016, Koperasi Rumah Bungkus Radja Isha tidak memosisikan diri sebagai lembaga keuangan konvensional, melainkan sebagai pusat pendampingan strategis. Koperasi ini hadir sebagai solusi konkret bagi UMKM yang selama ini kesulitan naik kelas.
Bentuk pendampingan yang diberikan sangat teknis dan aplikatif. Koperasi membantu pelaku usaha mulai dari pengembangan ide bisnis hingga penyediaan fasilitas mesin cetak digital dan cutting sticker untuk memperbarui tampilan kemasan agar lebih menarik, higienis, dan berstandar nasional.
Menembus Ritel Modern
Salah satu masalah terbesar UMKM adalah akses ke pasar ritel modern. Koperasi ini menjembatani celah tersebut dengan bertindak sebagai fasilitator distribusi. Mereka memastikan produk anggota tidak hanya tampil layak di rak ritel, tetapi juga unggul bersaing di pusat perbelanjaan ternama seperti DC Mall, Hypermarket, hingga BCS Mall.
Hasilnya nyata. Produk olahan makanan beku seperti “Vitzzar” (bakso dan seblak) mampu mencatatkan omzet hingga Rp20 juta per bulan di DC Mall. Produk lain seperti “Casava Snack” dan “Green Snack” juga berhasil meraih kesuksesan serupa. Tak hanya itu keripik dengan brand “Narata”, bahkan menembus pasar ekspor di Beijing, China.
Standarisasi dan Inovasi Teknologi untuk Pasar Global
Koperasi juga menjadi “konsultan” bagi para anggota dalam mengurus sertifikasi Halal LPPOM-MUI hingga pelabelan nutrisi (nutrition facts). Ini adalah solusi penting bagi pelaku UMKM yang sering kali enggan mengurus dokumen-dokumen legalitas yang rumit.
Guna mendukung visi ekspansi ke pasar yang lebih luas, koperasi kini melangkah lebih jauh dengan mengoperasikan factory sharing yang berlokasi di Kawasan Industri Tunas 2 Type 7B. Fasilitas ini menjadi pusat produksi makanan dalam kemasan kaleng yang memanfaatkan teknologi sterilisasi mutakhir untuk meningkatkan ketahanan produk.

Menurut Dewi, teknologi ini adalah kunci utama agar produk UMKM dapat bersaing di pasar global.
“Kami mengelola factory sharing di Kawasan Industri Tunas 2 Type 7B. Fokusnya pada produksi makanan kaleng dengan teknologi sterilisasi canggih. Dengan teknologi ini, produk bisa tahan minimal satu tahun, yang tentu saja membuka pintu lebar bagi kami untuk melakukan ekspor,” ungkap Dewi menjelaskan komitmen koperasi dalam menjaga standar kualitas produk.
Menatap Masa Depan
Koperasi Rumah Bungkus Radja Isha telah membuktikan bahwa dengan semangat ekonomi kolaborasi, pelaku usaha kecil dapat menjadi tangguh dan mampu bersaing. Melalui pendampingan berkelanjutan, koperasi ini terus membangun ekonomi bangsa dan mengubah hambatan menjadi peluang. Langkah ini berhasil mendorong bisnis skala rumahan menjadi kekuatan ekonomi yang kompetitif.
(RAY)



